Kamis, 05 November 2026

Saya dalam Harian Disway

 



Postingan ini memang terlambat. Tapi aku selalu mengingatnya. Nah supaya terasa jejaknya, aku masukkan pula di blog Jiwakoe ini. 

Tulisan di Harian Disway yang dimuat Selasa 18 Februari 2025 ini  ditulis oleh Kak Heti Palestina Yunani (hpy). Sahabat muda yang aktif dalam jurnalistik, penyair maupun bidang kebudayaan lainnya.


Terima kasih sudah "memotretku" lewat tulisan ini. **

Rabu, 04 November 2026

Punya Etika Jurnalistik

 

Tulisan ini melengkapi perjalanan Toety Azis dalam buku "Jejak Jaman, Nilai Jurnalisme Lima Tokoh Perenpuan Pers Nasional "

 

Punya Etika Jurnalistik


Gegap gempita deru mesin kota

Menyambut terbitnya lembar berita

 

Surabaya Post jitu iklannya

Karena semua suka padanya

 

Tiada lengkap di sore hari

Tanpa harian Surabaya post


Cuplikan jingle Surabaya Post yang dinyanyikan dengan riang dan bersemangat ini menggambarkan gerak dinamis koran sore yang berpusat di Jl TAIS Nasution 1 Surabaya ini.

Sejak 1990, saya bekerja di satu-satunya koran yang terbit sore di Surabaya.

Kebijakan redaksi yang saya ingat adalah menjadi koran sore yang menyajikan berita terkini wilayah gerbang kertasusila (Gersik Bangkalan Mojokerto Surabaya Sidoarjo Lamongan). Saat itu koran sore lainnya adalah Suara Pembaharuan yang terbit dari Jakarta. Untuk berita-berita luar negeri, kerap diterima lebih dulu kala itu. Sehingga Surabaya Post bisa leading.

Pelanggan saat itu bisa membandingkan dengan Dunia Dalam Berita, yang disiarkan TVRI.

Dalam setiap rapat redaksi, Redaktur Pelaksana selalu mengingatkan sejumlah waktu deadline yang ketat sesuai halamannya.

Tujuannya adalah agar tim pencari berita juga benar-benar memanfaatkan waktu. Awak redaksi dan tim lapangannya kudu selalu ingat untuk taat deadline. Intinya jangan sampai koran terlambat di tangan pembaca.

Kendati begitu, berita terkini bukan berarti disajikan sekadarnya. Untuk hardnews yang ditunggu karena nilai beritanya tinggi, maka biasanya akan diletakkan di halaman satu (utama). Dan ini menjadi Keputusan Redpel dan Pimred.

Demi pembaca agar tidak terlalu malam menerima koran ini, Perusahaan terus menerus melakukan perubahan jam deadline, sekaligus jam cetak. Demikian pula soal distribusi koran. Armada pengantaran diperbanyak dan diatur sedemikian sehingga pembaca gerbang kertasila, terutama, dapat segera membaca berita yang dinanti-nanti. 

Berupaya sore hari pembaca Surabaya Post dapat membaca berita terbaru.

Bagaimana untuk berita-berita yang membutuhkan kelengkapan data dan analisa ?

Jaman saya bertugas sudah ada Departemen Litbang (Penelitian dan Pengembangan).

Litbang yang juga disebut sebagai Bank Data akan membantu melengkapi data dari berita yang akan disajikan. Misalnya, Gubernur Soelarso akan meresmikan World Trade Center. Diharapkan dengan adanya pusat perdagangan ini, dapat memacu pertumbuhan ekonomi Provinsi Jatim.

Maka reporter (jurnalis) dapat meminta tambahan data tentang berapa pertumbuhan ekonomi Jatim, sektor2 apa saja yang dapat ikut andil untuk memacu pertumbuhan ekonomi tersebut.

Bahkan prediksi tahun berapa pertumbuhan ekonomi akan tercapai

Nah jika kebijakan tersebut ada pada era diskusi AI, maka tagline Surabaya Post justru menjadi “komplit”; terkini, cepat dan lengkap.  

Mengapa terlengkap ? Karena AI bisa menjadi asisten yang akan membantu proses menjadi lebih cepat, dalam melengkapi berita dengan data, sekaligus analisa jadi lebih cepat pula. Otomatis ini akan mempercepat pengiriman koran (bila masih berlaku cetak), maupun dalam bentuk digital.

Ibu Toety ingin wartawannya kreatif dan berpikiran maju. Ibu Toety sebagai pimpinan, memang membuka kesempatan untuk wartawan belajar lebih intens dan memperdalam pengetahuan kejurnalistikan.

Di jaman saya, tiga bulan setelah aktif sebagai reporter yang bertugas di Pemprov Jatim, terutama Gedung Negara Grahadi, saya dan sejumlah teman yang baru, digembleng lagi dalam program Penulisan Investigasi, yang dipandu oleh tim LP3Y (Lembaga  Penelitian Pendidikan Penerbitan Yogyakarta), pimpinan Pak Ashadi Siregar.  

Ibu juga meluaskan kesempatan bagi para jurnalisnya yang mumpuni untuk aktif dalam konperensi pers nasional, asia, maupun taraf dunia (internasional).

Ibu Toety juga menyiapkan tim ahli dari para akademisi dari universitas ternama di Jatim, sebagai think tank Surabaya Post.

Dengan adanya AI, Ibu Toety justru bisa menambahkan AI untuk memperkuat tim think tank-nya ini.

AI bukan jurnalisnya. Jurnalis tetap harus menjadi editor dan pemeriksa utama.

AI boleh masuk dalam ruang rapat redaksi.  Tapi terdapat sejumlah karakter yang tidak dapat  digantikan oleh AI.

Sentuhan personal, relasi jurnalis dengan narasumber. Keterhubungan dua sosok ini yang tidak dapat digantikan oleh AI. Keduanya bisa berkontak, bertemu, dan bercerita sesuai kebutuhan berita. Melontarkan pertanyaan tajam, membaca ekspresi, memahami emosi, dan menggali informasi sensitif. Jurnalis dapat membangun jaringan hubungan dengan narasumber rahasia, yang akan memberikan informasi2 strategis. Ini tidak dapat dilakukan AI.

Di luar materi berita, keduanya dapat bercerita secara pribadi, yang justru sangat manusiawi.

Jurnalis juga punya kemampuan membaca situasi lapangan, atau memahami motif manusia secara penuh, berlatar sosial budaya pula, sehingga dapat melakukan investigasi mendalam. Jurnalis punya kemampuan terus mengasah kemampuan insting dan keberaniannya melakukan investigasi.

Kemudian kapabilitas sosok jurnalisnya. Siapa sih jurnalis yang melaporkan liputan tersebut.

Saya masih percaya, pemirsa / pembaca akan lebih percaya pada jurnalis yang punya reputasi kuat dan transparan.

Sekarang ini mudah dijumpai, bila ada konten2 media sosial yang menarik, para netizen biasanya berkomen: “Ah itu pasti AI.”
AI bisa menghasilkan informasi yang kurang valid, atau campur aduk. Dalam hal ini dibutuhkan jurnalis yang mampu memeriksa sumber, membandingkan data, dan memvalidasi fakta.

Dan poin ini sangat penting. Jurnalis memiliki etika jurnalistik. Ia menentukan apa yang layak dipublikasikan atau tidak. **

 

Buku sudah terbit Agustus 2026.

Bio ku.

Onny Yoelyana

Boleh disebut, saya mengenal Surabaya Post sejak sekolah dasar (SD), karena orangtua adalah pelanggan setia koran sore ini. Apalagi beberapa kali mendapat tugas kliping berita koran, sesuai tema yang ditentukan oleh guru. Begitu pun ketika SMP, SMA dan kuliah.

Jadi saya mengetahui nama-nama A Azis, dan Toety Azis dari membaca koran ini. Demikian pula nama M Anis, Zainudin, Tjuk Suwarsono, dan Sirikit Syah. Saya bahkan selalu mengikuti tulisan M Anis, setiap kali bertugas di luar Indonesia.

Batin saya, begitu asyik ya menjadi wartawan itu. Hingga perjalanan menuntun saya mendaftar dan diterima menjadi reporter Surabaya Post, Juli 1990.  Senang juga kala itu, karena tidak banyak perempuan jurnalis. Mendapat tugas menjadi reporter desk Kota, kemudian menjadi redaktur Gaya Hidup dan Kronik Pelajar untuk Surabaya Post edisi Minggu, pernah pula menjadi asisten redaktur untuk desk Opini, dan desk berita-berita Nasional. Inisial saya adalah oya.

Perjalanan saya menulis berita, mengedit, atau pun rapat redaksi, di Surabaya Post berakhir saat koran ini ditutup, tahun 2002. Saya melanjutkan cerita jurnalis, di Berita Sore, sebagai redaktur Gaya Hidup. Satu tahun saja, seumur dengan koran berkonsep lokal yang berakhir 2003. Kemudian menjadi reporter lepas di Nusa Bali 2005 hingga 2025.

Saat ini saya masih aktif di Esther Clinic menjalankan tugas sebagai Manajer Operasional dan Public Relations. Tak jauh-jauh juga dari media. ***

 

 

 


Senin, 26 Oktober 2026

Catatan tentang Ibu Toety Azis - 1

 

Tulisan berikut ini adalah catatan saya untuk "melengkapi" pembuatan buku tentang Perempuan Jurnalis Indonesia.


Saya menjadi reporter di Surabaya Post, tahun 1990. 

Pertama kali melihat ibu Toety Azis turun dari Mercedes Benz L 625 AZ, hati saya tertawan. 

Begitu anggun, keibuan, dan berwibawa.

Saat itu belum mengenal sebutan "keren". Jadi begitulah gambarannya setiap kali melihat ibu memasuki ruangannya di Gedung Surabaya Post, di Jl Tais Nasution, yang bangunannya unik dan megah itu.

Sejak itu, bila tidak ada liputan atau tugas lain, saya seperti ingin terus melihatnya. Melihatnya datang atau pulang. Kemudian melihatnya tertawa dan menyapa para karyawan yang kebetulan melintas di sekitarnya. Aroma harum tertinggal di sekitar ibu lewat.

Kesempatan bertatap muka, dan ngobrol dengan Ibu beberapa kali didapat saat Surabaya Post berulang tahun—artinya ada gathering karyawan, atau ketika rapat lengkap dengan awak redaksi.

Melihat Ibu menyampaikan pidato yang selalu ditunggu karyawan. Mengamati Ibu dengan penampilan khasnya, blus dan rok sewarna. Blus berlengan panjang, dengan bros di dada bagian kanan. Kalung mutiara memeluk leher, selaras dengan anting mutiaranya. Dan yang selalu kuingat cincin berlian di jari kelingking. Rok di bawah lutut potongan sederhana, pleats besar-besar, atau sekadar rok A line yang manis.

Ibu Toety, seperti sosok para ibu umumnya. Perhatian dan memastikan, anak-anak, beliau menyebut teman-teman Redaksi, begitu, tercukupi kebutuhannya. Saya yang kebetulan pernah bertugas di edisi hari Minggu, beberapa kali mendapatkan kiriman extra fooding. Entah itu, kue, roti, atau kacang hijau hangat, yang dikirimkan ke redaksi yang  bertugas.

Perhatian Ibu terhadap wartawati Surabaya Post juga ditunjukkan terhadap penampilan keseharian. Ibu mengatakan, jangan karena tugas (cari berita) yang sering di lapangan, kemudian boleh berpakaian sembarangan. Ibu tidak ingin melihat kami “kucel”.

Seluruh karyawan, termasuk wartawati mendapatkan seragam, yang bahan, dan model disesuaikan dengan tugasnya, sehingga tetap lincah bergerak dan selalu rapi.

Di jaman saya, wartawati memang belum banyak, sehingga ibu memberikan perhatian tersendiri. Ketika saya mengajukan resign karena akan menikah. Ibu tidak menyetujui permohonan saya. Pertimbangannya, tidak ingin wartawati di Surabaya Post berkurang lagi.

Nama besar Surabaya Post dan Ibu, menjadi jaminan kemudahan dalam menjalin relasi dengan narasumber maupun instansi lain.

Setiap kali memperkenalkan diri sebagai wartawati Surabaya Post, hampir semua narasumber -beragam kalangan- mengenal Ibu dan korannya. Dan selalu menanyakan lebih detil. Tugas meliput pun menjadi lebih mudah dan lancar. Bahkan mereka selalu menyelipkan cerita kekaguman pada  sosok Ibu dengan tiga putra itu.

Ibu sangat menaruh atensi pada kemampuan tim redaksi. Hal itu diwujudkan dengan rutin memberikan pelatihan dan mengirimkan wartawan wartawati terbaiknya untuk mengikuti pelatihan, seminar di bidang penulisan, atau liputan investigasi yang cukup menantang kemampuan.

Termasuk ketika saya yang merasa, masih tergolong baru bertugas di harian sore ini, tapi Ibu mengijinkan saya mengikuti CAJ (Congress ASEAN Journalism), tahun 1994. Belajar bertukar pikiran dengan banyak wartawan senior dari negara2 ASEAN. Ini kesempatan emas buat saya, kala itu.

Ibu suka mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals. Salah satunya adalah Kemesraan. Karena itu pula, setiap sore jam pulang kerja, kantor memutarkan lagu ini mengiringi karyawan pulang bekerja. Meski faktanya, teman-teman redaksi, sirkulasi, bahkan Ibu Toety Azis, sering pulang lebih larut.

Maka ketika, lagu ini tak terdengar beberapa waktu. Saya tak ingat sebabnya apa, ternyata justru Ibu yang menyadarkan kami.

Ceritanya, rapat bersama awak redaksi hari itu, Senin 5 April 1999, berakhir pk 10 malam.

Sebelum menutup rapat, ibu berpesan, "Saudara2 ibu ingin lagu Kemesraan diputar kembali ya."

Kami yang ikut rapat, saling pandang satu sama lain. Kami tak menyadari kalau “Kemesraan” tak terdengar lagi di kantor. Tak jelas mengapa lantunan, “kemesraan ini janganlah cepat berlalu…” menghilang….

Tapi yang jelas, esok paginya, Selasa 6 April 1999, kami semua terkejut. Ibu berpulang.

Rapat terakhir dengan Ibu, dengan pesan “mesra” itu membuat kami tunduk dalam keheningan dan air mata.

 

Selamat beristirahat Ibu.





 

Jumat, 04 April 2025

Romansa Cokelat

 

Puisi ini kubuat ketika Valentine Day Feb 2025 (late post). 

Romansa Cokelat

Semerbak wangi khas 
Pahit legit gurih 
Menggoda rasa
Lelehannya memeluk lidah
Tak ingin bergegas habis
Biarkan nikmat lama
Bagai rasaku padamu... 

#onny2025


Dicetak dan dibagikan bersama :

1. Sekotak cokelat persembahan Esther Clinic x Cheeoko untuk acara Beauty Fest 2025, di Pakuwon Mal, 14 Feb 2025.

2. Cokelat silver queen untuk teman2 di kantor.  

Puisi puisi pendek

 

Gita SMA

 

I want to know what love is

Dari gelombang 89.70 FM

George Michael menyeruak

Menghentak masa putih abu-abu

Ah mantan

Tiada sudah

Tinggal kenangan

 

11-12-2024 Pelataran Ciputra World

 

Masuk Angin

Meringis, meriang

Pegal, letih, lesu

Kepala cekot cekot

Bersin bersin

Duh…Tolak Angin di mana ?

 

10-12-2024 Point Coffee Indomaret


Banjir

Bersama nyanyian hujan

Lolongan klakson memburu

Mengalahkan rintihan knalpot motor

Berselimut dingin

Menembus malam nan sendu

 

10-12-2024 Underpass Mayjen Sungkono

 

Tunduk

Halilintar bercanda

Sebahagia hujan

Mengguyur deras

Pohon-pohon berayun

Merontokkan daun-daun tua

Merobohkan kesombongan

Menundukkan jiwa raga

Siapa kuasa

 

10-12-2024 Esther Clinic WR Supratman

 

Merindu

Jika rindu, bertemulah

Jika sayang, datanglah

Jika itu kita

 

05-03-2023 Kopi Kalyan

 

Rasa

Manis atau pahit

Keduanya ada

Melengkapi

Menyempurnakan

Sebuah rasa

 

08-04-2021 Calibre Coffee


Puisi puisi pendek ini dimuat dalam Buku Antologi Puisi "Setelah Tanpa Deadline". Buku berisi puisi2 karya para Wartawan eks Surabaya Post. 

Dilaunching 1 April 2025. Mengenang tanggal berdirinya harian sore pertama di Jawa Timur itu.    

 

Senin, 12 Juni 2017

Rejeki Legit Kue Lebaran




Aroma gurih kastengels, hmmmm....Wangi nanas dan cengkih menyeruak dari kue nastar, serta semerbak manis dan legit kue lidah kucing, benar-benar “menggoda” hidungku yang sedang berpuasa.

Tak hendak mencicipi kue kue mungil ini, karena memang belum saatnya berbuka. Tapi tanganku tak segera lepas dari toples berisi kue-kue yang selalu muncul ketika menjelang hari raya ini.

Mau pesan berapa toples ya. Aku segera berhitung. Aku pesan apa ya, karena semalam sudah mengiyakan tawaran seorang teman, 4 toples nastar. Sementara temanku kuliah juga menyodorkan penawaran yang sama, kastengels, nastar, putri salju dan kue almond, serta kue kacang mete. Penampilan fisik kue nyaris mirip. Hanya beda di packagingnya, lebih kelihatan wah. Aku akhirnya memesan kue kering berlapis mete, dan nastar (lagi), masing-masing 2 toples.

Karena tak kuasa menolak, aku juga sudah mengiyakan tawaran teman lainnya lagi untuk membeli mete goreng rasa gurih, pedas, dan orisinal. Oh aku lapar mata.... Apalagi sebelumnya aku sudah pesan kue kastengels bikinan teman sekantor, yang cukup menggoda.

Bagaimana tidak lapar mata, aku masih sempat sempatnya menanyakan apa tidak ada jenis kue yang baru lagi, selain nastar dan kastengels ? Jawaban mereka kompak, orderan untuk jenis kue yang disebut tadi sudah membuat kewalahan. Dan pesanan terbanyak memang seragam, lagi lagi nastar, kastengels dan lidah kucing, jadi primadona.

Nastar dan kastengels memang favorit. Nastar berasal dari bahasa Belanda, yaitu Annanas atau nanas dan Taart atau tar, sehingga bisa diartikan sebagai tar nanas. Sebenarnya kue ini terinspirasi dari kue pie buatan orang Eropa dengan isian buah bluberi dan apel.
Tapi, karena di Indonesia saat itu sulit menemukan kedua buah tersebut, maka kemudian memanfaatkan nanas yang tumbuh banyak di negara tropis. Nastar ala Indonesia punya bentuk lebih kecil dibandingkan pie atau kue tar Eropa umumnya.

Nama nastar juga diambil dari nastaart yang berarti kue nanas. Sedangkan dalam bahasa Inggrisnya dinamakan pineapple tarts, atau pineapple nastar roll, yang populer saat masyarakat merayakan Natal. Dalam Bahasa Hokian, nastar diartikan sebagai ong lai (buah pir emas) yang berarti 'kemakmuran datang kemari', rezeki, dan keberuntungan. Warna emas, manis dan lembutnya isi nanas melambangkan rezeki yang manis, dan melimpah.

Seiring majunya teknologi dan pengetahuan, kue ini sudah dikembangkan dalam berbagai varian rasa, seperti stroberi, blueberi, dan lain-lain. Bahkan nastar yang dinobatkan sebagai kue rumahan, kini banyak diperjualbelikan di toko roti, toko kue, dan pasar swalayan dalam kemasan toples plastik.

Menjelang Lebaran begini, berkeliling ke beberapa toko cookies langganan, jualannya hampir mirip semua. Kalau toh ada yang beda, tambahannya biasanya hanyalah ada cokelat.
Di beberapa grup whatsaapku setiap malam berseliweran info penawaran kue Lebaran itu.

Lebaran sebentar lagi. Saat tulisan ini kubuat, Lebaran 18 hari lagi. THR (tunjangan hari raya) mungkin belum dibagikan. Tapi hiruk pikuk para ibu berbelanja seolah tak bisa direm.

Di kantorku yang kebetulan 90 persen perempuan, wuih setiap hari terjadi transaksi, meski sebatas baru pesan memesan. Mulai dari kerudung, mukena, kain batik. Yang paling heboh adalah makanan, dan minuman. Aneka cookies Lebaran seperti nastar, putri salju, kastengels, lidah kucing, semprit, kue bawang, sagu keju, cheese stick, widaran keju, kue kering kacang mete, bola bola cokelat,  mocha chip, choco chip, kue semprong, kue pluntir, dll.

Belum lagi yang langsung buatan pabrik, semacam biskuit Khong Ghuan, Monde, Oat Choco, Roka Wafer Ball, Astor, aneka wafer segala merek, dan kudapan lumer macam jelly. Semua ditawarkan. Semua dicari dan diinginkan, sesuai selera. Aneka minuman segar, seperti jus apel, teh melati botolan, laris manis. Tinggal tentukan pilihan ! 

Benar-benar rejeki Lebaran yang manis.



Onny
8 Juni 2017



Rabu, 07 Juni 2017

Arisan


Ayo arisannnnn......
Di kalangan perempuan kata dan kegiatan ini sangat familiar.

Termasuk aku. Setiap awal bulan, aku ada arisan dasawisma di perumahan, di awal bulan pula arisan yang lain menanti, yakni dengan teman teman kantor.
Di pertengahan bulan ada arisan dengan komunitas seprofesi.
Dan di sembarang tanggal --tergantung kesepakatan bersama -- ada arisan dengan teman teman alumni kuliah. Dan tiga bulan sekali ada arisan keluarga.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arisan/aris·an/ n adalah kegiatan mengumpulkan uang atau barang yang bernilai sama oleh beberapa orang kemudian diundi di antara mereka untuk menentukan siapa yang memperolehnya. Undian dilaksanakan dalam sebuah pertemuan secara berkala sampai semua anggota memperolehnya;
Berarisan/ber·a·ri·san/ v bertemu (berkumpul) secara berkala untuk arisan

Di Indonesia, dalam budaya arisan, setiap kali salah satu anggota memenangkan uang pada pengundian, pemenang tersebut memiliki kewajiban untuk menggelar pertemuan pada periode berikutnya arisan akan diadakan.

Di dalam arisan ada bandar dan peserta arisan. Tentu saja juga uang yang beredar. Nilainya macam-macam. Ada yang arisan hanya Rp 100 ribu. Ada pula yang pasang Rp 300 ribu, Rp 500 ribu, Rp 1 juta. Untuk kalangan berpunya dan sosialita, tentu bisa dibayangkan berapa nilai arisannya. Arisan ini bisa berupa arisan uang atau arisan barang. Barang biasanya alat- alat elektronika, motor, dll. Tapi paling banyak dan mudah menjalankannya adalah arisan uang.

Bandar arisan adalah posisi terpenting di setiap kelompok arisan. Tugas bandar ini macam-macam. Paling utama adalah menagih uang arisan peserta, kemudian mengurus tempat arisan, mengumpulkan atau mengundang peserta (woro-woro).

Urusan menagih setoran arisan itu tak mudah, karena tidak selalu lancar. Ada peserta yang sudah paham “kewajibannya” langsung bayar, tapi ada juga yang mesti ditagih dan diingatkan. “Kadang tak cukup sekali lo menagihnya,” kata Novi, yang “rajin” jadi bandar arisan. Makanya, setiap bandar punya cara sendiri untuk memudahkan tugasnya menagih. 

Lantaran kemudahan teknologi, arisan pun kini mudah. Tak selalu harus bertemu fisik. Tapi model begini menuntut tingkat kepercayaan sangat tinggi. Uang tinggal transfer ke rekening “bandarnya”. Yang dapat arisan pun tinggal ditransfer. Ini biasanya terjadi bila urutan yang menarik arisan sudah ditentukan di awal pertemuan. Jadi misalnya 10 orang peserta arisan. Yang pertama adalah si A, kemudian B, C, dan seterusnya. Ini biasanya terjadi pada arisan dengan teman-teman kantor. Tak perlu “ngumpul” bertemu muka dan bayar arisan. 

Aku sendiri senang banget kalau dapat urutan terakhir hehehe. Setelah narik kan nggak perlu setor setor lagi. Tapi andai dapat di urutan awal–awal ya  nggak masalah juga.

Arisan bagi beberapa perempuan adalah sarana untuk menabung (nyelengi). Ketimbang habis di dompet. Meski punya tabungan di bank, arisan boleh dibilang lebih seru dan asyik-asyik saja. 

Arisan pun menjadi alasan untuk bisa bertemu. Bertemu tetangga, teman, sahabat, saudara, atau keluarga. Kalau ada embel-embel arisan, pasti diupayakan untuk datang karena bisa bertemu si A si B. Dan pulangnya kalau beruntung, ya dapat rejeki arisan. Kalau kurang beruntung, tidak juga terlalu menyesal. 

Yang penting silaturahmi, pul kumpul. Nanti kalau sudah bertemu kawan, obrolannya bisa macam-macam. Bisa bahas perjodohan buat yang masih lajang. Bisa diskusi tentang networking usaha bisnis. Silakan bahas habis tentang diet untuk menurunkan berat badan. Atau ngobrol tentang anak-anak dan hal lainnnya. Di tempat arisan pula, teman yang punya usaha, boleh membawa dagangannya di sana juga.

"Lagian arisan ini lo waktunya seenaknya polll. Dibuat dua tahun lalu, yang narik arisan baru dua orang, dan periode ketiga ini setelah 2 tahun tak bertemu. Coba bayangkan...," kata Lucya, bandar arisan alumni antro, UA.  
Tapi sekali lagi, peserta arisan ini asyik asyik saja. Yang penting seruuuu !!! .....*

Onny
8 Juni 2017


                                           horeeee...dapat arisan.