Tulisan ini melengkapi perjalanan Toety Azis dalam buku "Jejak Jaman, Nilai Jurnalisme Lima Tokoh Perenpuan Pers Nasional "
Punya Etika Jurnalistik
Gegap gempita deru mesin kota
Menyambut terbitnya lembar berita
Surabaya Post jitu iklannya
Karena semua suka padanya
Tiada lengkap di sore hari
Tanpa harian Surabaya post
Cuplikan
jingle Surabaya Post yang dinyanyikan dengan riang dan bersemangat ini menggambarkan
gerak dinamis koran sore yang berpusat di Jl TAIS Nasution 1 Surabaya ini.
Sejak
1990, saya bekerja di satu-satunya koran yang terbit sore di Surabaya.
Kebijakan
redaksi yang saya ingat adalah menjadi koran sore yang menyajikan berita terkini
wilayah gerbang kertasusila (Gersik Bangkalan Mojokerto Surabaya Sidoarjo
Lamongan). Saat itu koran sore lainnya adalah Suara Pembaharuan yang terbit
dari Jakarta. Untuk berita-berita luar negeri, kerap diterima lebih dulu kala
itu. Sehingga Surabaya Post bisa leading.
Pelanggan
saat itu bisa membandingkan dengan Dunia Dalam Berita, yang disiarkan TVRI.
Dalam
setiap rapat redaksi, Redaktur Pelaksana selalu mengingatkan sejumlah waktu deadline
yang ketat sesuai halamannya.
Tujuannya
adalah agar tim pencari berita juga benar-benar memanfaatkan waktu. Awak
redaksi dan tim lapangannya kudu selalu ingat untuk taat deadline. Intinya jangan
sampai koran terlambat di tangan pembaca.
Kendati
begitu, berita terkini bukan berarti disajikan sekadarnya. Untuk hardnews yang
ditunggu karena nilai beritanya tinggi, maka biasanya akan diletakkan di
halaman satu (utama). Dan ini menjadi Keputusan Redpel dan Pimred.
Demi
pembaca agar tidak terlalu malam menerima koran ini, Perusahaan terus menerus
melakukan perubahan jam deadline, sekaligus jam cetak. Demikian pula soal
distribusi koran. Armada pengantaran diperbanyak dan diatur sedemikian sehingga
pembaca gerbang kertasila, terutama, dapat segera membaca berita yang
dinanti-nanti.
Berupaya
sore hari pembaca Surabaya Post dapat membaca berita terbaru.
Bagaimana
untuk berita-berita yang membutuhkan kelengkapan data dan analisa ?
Jaman
saya bertugas sudah ada Departemen Litbang (Penelitian dan Pengembangan).
Litbang
yang juga disebut sebagai Bank Data akan membantu melengkapi data dari berita
yang akan disajikan. Misalnya, Gubernur Soelarso akan meresmikan World Trade
Center. Diharapkan dengan adanya pusat perdagangan ini, dapat memacu
pertumbuhan ekonomi Provinsi Jatim.
Maka
reporter (jurnalis) dapat meminta tambahan data tentang berapa pertumbuhan
ekonomi Jatim, sektor2 apa saja yang dapat ikut andil untuk memacu pertumbuhan
ekonomi tersebut.
Bahkan
prediksi tahun berapa pertumbuhan ekonomi akan tercapai
Nah jika
kebijakan tersebut ada pada era diskusi AI, maka tagline Surabaya Post justru menjadi
“komplit”; terkini, cepat dan lengkap.
Mengapa
terlengkap ? Karena AI bisa menjadi asisten yang akan membantu proses menjadi
lebih cepat, dalam melengkapi berita dengan data, sekaligus analisa jadi lebih
cepat pula. Otomatis ini akan mempercepat pengiriman koran (bila masih berlaku cetak),
maupun dalam bentuk digital.
Ibu
Toety ingin wartawannya kreatif dan berpikiran maju. Ibu Toety sebagai
pimpinan, memang membuka kesempatan untuk wartawan belajar lebih intens dan
memperdalam pengetahuan kejurnalistikan.
Di jaman
saya, tiga bulan setelah aktif sebagai reporter yang bertugas di Pemprov Jatim,
terutama Gedung Negara Grahadi, saya dan sejumlah teman yang baru, digembleng
lagi dalam program Penulisan Investigasi, yang dipandu oleh tim LP3Y (Lembaga Penelitian Pendidikan Penerbitan Yogyakarta),
pimpinan Pak Ashadi Siregar.
Ibu juga
meluaskan kesempatan bagi para jurnalisnya yang mumpuni untuk aktif dalam
konperensi pers nasional, asia, maupun taraf dunia (internasional).
Ibu
Toety juga menyiapkan tim ahli dari para akademisi dari universitas ternama di
Jatim, sebagai think tank Surabaya Post.
Dengan
adanya AI, Ibu Toety justru bisa menambahkan AI untuk memperkuat tim think
tank-nya ini.
AI bukan
jurnalisnya. Jurnalis tetap harus menjadi editor dan pemeriksa utama.
AI boleh
masuk dalam ruang rapat redaksi. Tapi
terdapat sejumlah karakter yang tidak dapat
digantikan oleh AI.
Sentuhan
personal, relasi jurnalis dengan narasumber. Keterhubungan dua sosok ini yang
tidak dapat digantikan oleh AI. Keduanya bisa berkontak, bertemu, dan bercerita
sesuai kebutuhan berita. Melontarkan pertanyaan tajam,
membaca ekspresi, memahami emosi, dan menggali informasi sensitif. Jurnalis
dapat membangun jaringan hubungan dengan narasumber rahasia, yang akan
memberikan informasi2 strategis. Ini tidak dapat dilakukan AI.
Di luar
materi berita, keduanya dapat bercerita secara pribadi, yang justru sangat manusiawi.
Jurnalis juga punya
kemampuan membaca situasi lapangan, atau memahami motif manusia secara penuh, berlatar
sosial budaya pula, sehingga dapat melakukan investigasi mendalam. Jurnalis
punya kemampuan terus mengasah kemampuan insting dan keberaniannya melakukan
investigasi.
Kemudian
kapabilitas sosok jurnalisnya. Siapa sih jurnalis yang melaporkan liputan
tersebut.
Saya
masih percaya, pemirsa / pembaca akan lebih
percaya pada jurnalis yang punya reputasi kuat dan transparan.
Sekarang
ini mudah dijumpai, bila ada konten2 media sosial yang menarik, para netizen biasanya
berkomen: “Ah itu pasti AI.”
AI bisa menghasilkan informasi yang kurang valid, atau campur aduk. Dalam hal
ini dibutuhkan jurnalis yang mampu memeriksa sumber, membandingkan data, dan
memvalidasi fakta.
Dan poin ini sangat penting.
Jurnalis memiliki etika jurnalistik. Ia menentukan apa yang layak
dipublikasikan atau tidak. **
Buku sudah terbit Agustus 2026.
Bio ku.
Onny Yoelyana
Boleh disebut, saya mengenal Surabaya Post sejak sekolah
dasar (SD), karena orangtua adalah pelanggan setia koran sore ini. Apalagi
beberapa kali mendapat tugas kliping berita koran, sesuai tema yang ditentukan
oleh guru. Begitu pun ketika SMP, SMA dan kuliah.
Jadi saya mengetahui nama-nama A Azis, dan Toety Azis dari
membaca koran ini. Demikian pula nama M Anis, Zainudin, Tjuk Suwarsono, dan
Sirikit Syah. Saya bahkan selalu mengikuti tulisan M Anis, setiap kali bertugas
di luar Indonesia.
Batin saya, begitu asyik ya menjadi wartawan itu. Hingga
perjalanan menuntun saya mendaftar dan diterima menjadi reporter Surabaya Post,
Juli 1990. Senang juga kala itu, karena
tidak banyak perempuan jurnalis. Mendapat tugas menjadi reporter desk Kota,
kemudian menjadi redaktur Gaya Hidup dan Kronik Pelajar untuk Surabaya Post
edisi Minggu, pernah pula menjadi asisten redaktur untuk desk Opini, dan desk berita-berita
Nasional. Inisial saya adalah oya.
Perjalanan saya menulis berita, mengedit, atau pun rapat
redaksi, di Surabaya Post berakhir saat koran ini ditutup, tahun 2002. Saya
melanjutkan cerita jurnalis, di Berita Sore, sebagai redaktur Gaya Hidup. Satu
tahun saja, seumur dengan koran berkonsep lokal yang berakhir 2003. Kemudian menjadi
reporter lepas di Nusa Bali 2005 hingga 2025.
Saat ini saya
masih aktif di Esther Clinic menjalankan tugas sebagai Manajer Operasional dan
Public Relations. Tak jauh-jauh juga dari media. ***