Kamis, 05 November 2026

Saya dalam Harian Disway

 



Postingan ini memang terlambat. Tapi aku selalu mengingatnya. Nah supaya terasa jejaknya, aku masukkan pula di blog Jiwakoe ini. 

Tulisan di Harian Disway yang dimuat Selasa 18 Februari 2025 ini  ditulis oleh Kak Heti Palestina Yunani (hpy). Sahabat muda yang aktif dalam jurnalistik, penyair maupun bidang kebudayaan lainnya.


Terima kasih sudah "memotretku" lewat tulisan ini. **

Rabu, 04 November 2026

Punya Etika Jurnalistik

 

Tulisan ini melengkapi perjalanan Toety Azis dalam buku "Jejak Jaman, Nilai Jurnalisme Lima Tokoh Perenpuan Pers Nasional "

 

Punya Etika Jurnalistik


Gegap gempita deru mesin kota

Menyambut terbitnya lembar berita

 

Surabaya Post jitu iklannya

Karena semua suka padanya

 

Tiada lengkap di sore hari

Tanpa harian Surabaya post


Cuplikan jingle Surabaya Post yang dinyanyikan dengan riang dan bersemangat ini menggambarkan gerak dinamis koran sore yang berpusat di Jl TAIS Nasution 1 Surabaya ini.

Sejak 1990, saya bekerja di satu-satunya koran yang terbit sore di Surabaya.

Kebijakan redaksi yang saya ingat adalah menjadi koran sore yang menyajikan berita terkini wilayah gerbang kertasusila (Gersik Bangkalan Mojokerto Surabaya Sidoarjo Lamongan). Saat itu koran sore lainnya adalah Suara Pembaharuan yang terbit dari Jakarta. Untuk berita-berita luar negeri, kerap diterima lebih dulu kala itu. Sehingga Surabaya Post bisa leading.

Pelanggan saat itu bisa membandingkan dengan Dunia Dalam Berita, yang disiarkan TVRI.

Dalam setiap rapat redaksi, Redaktur Pelaksana selalu mengingatkan sejumlah waktu deadline yang ketat sesuai halamannya.

Tujuannya adalah agar tim pencari berita juga benar-benar memanfaatkan waktu. Awak redaksi dan tim lapangannya kudu selalu ingat untuk taat deadline. Intinya jangan sampai koran terlambat di tangan pembaca.

Kendati begitu, berita terkini bukan berarti disajikan sekadarnya. Untuk hardnews yang ditunggu karena nilai beritanya tinggi, maka biasanya akan diletakkan di halaman satu (utama). Dan ini menjadi Keputusan Redpel dan Pimred.

Demi pembaca agar tidak terlalu malam menerima koran ini, Perusahaan terus menerus melakukan perubahan jam deadline, sekaligus jam cetak. Demikian pula soal distribusi koran. Armada pengantaran diperbanyak dan diatur sedemikian sehingga pembaca gerbang kertasila, terutama, dapat segera membaca berita yang dinanti-nanti. 

Berupaya sore hari pembaca Surabaya Post dapat membaca berita terbaru.

Bagaimana untuk berita-berita yang membutuhkan kelengkapan data dan analisa ?

Jaman saya bertugas sudah ada Departemen Litbang (Penelitian dan Pengembangan).

Litbang yang juga disebut sebagai Bank Data akan membantu melengkapi data dari berita yang akan disajikan. Misalnya, Gubernur Soelarso akan meresmikan World Trade Center. Diharapkan dengan adanya pusat perdagangan ini, dapat memacu pertumbuhan ekonomi Provinsi Jatim.

Maka reporter (jurnalis) dapat meminta tambahan data tentang berapa pertumbuhan ekonomi Jatim, sektor2 apa saja yang dapat ikut andil untuk memacu pertumbuhan ekonomi tersebut.

Bahkan prediksi tahun berapa pertumbuhan ekonomi akan tercapai

Nah jika kebijakan tersebut ada pada era diskusi AI, maka tagline Surabaya Post justru menjadi “komplit”; terkini, cepat dan lengkap.  

Mengapa terlengkap ? Karena AI bisa menjadi asisten yang akan membantu proses menjadi lebih cepat, dalam melengkapi berita dengan data, sekaligus analisa jadi lebih cepat pula. Otomatis ini akan mempercepat pengiriman koran (bila masih berlaku cetak), maupun dalam bentuk digital.

Ibu Toety ingin wartawannya kreatif dan berpikiran maju. Ibu Toety sebagai pimpinan, memang membuka kesempatan untuk wartawan belajar lebih intens dan memperdalam pengetahuan kejurnalistikan.

Di jaman saya, tiga bulan setelah aktif sebagai reporter yang bertugas di Pemprov Jatim, terutama Gedung Negara Grahadi, saya dan sejumlah teman yang baru, digembleng lagi dalam program Penulisan Investigasi, yang dipandu oleh tim LP3Y (Lembaga  Penelitian Pendidikan Penerbitan Yogyakarta), pimpinan Pak Ashadi Siregar.  

Ibu juga meluaskan kesempatan bagi para jurnalisnya yang mumpuni untuk aktif dalam konperensi pers nasional, asia, maupun taraf dunia (internasional).

Ibu Toety juga menyiapkan tim ahli dari para akademisi dari universitas ternama di Jatim, sebagai think tank Surabaya Post.

Dengan adanya AI, Ibu Toety justru bisa menambahkan AI untuk memperkuat tim think tank-nya ini.

AI bukan jurnalisnya. Jurnalis tetap harus menjadi editor dan pemeriksa utama.

AI boleh masuk dalam ruang rapat redaksi.  Tapi terdapat sejumlah karakter yang tidak dapat  digantikan oleh AI.

Sentuhan personal, relasi jurnalis dengan narasumber. Keterhubungan dua sosok ini yang tidak dapat digantikan oleh AI. Keduanya bisa berkontak, bertemu, dan bercerita sesuai kebutuhan berita. Melontarkan pertanyaan tajam, membaca ekspresi, memahami emosi, dan menggali informasi sensitif. Jurnalis dapat membangun jaringan hubungan dengan narasumber rahasia, yang akan memberikan informasi2 strategis. Ini tidak dapat dilakukan AI.

Di luar materi berita, keduanya dapat bercerita secara pribadi, yang justru sangat manusiawi.

Jurnalis juga punya kemampuan membaca situasi lapangan, atau memahami motif manusia secara penuh, berlatar sosial budaya pula, sehingga dapat melakukan investigasi mendalam. Jurnalis punya kemampuan terus mengasah kemampuan insting dan keberaniannya melakukan investigasi.

Kemudian kapabilitas sosok jurnalisnya. Siapa sih jurnalis yang melaporkan liputan tersebut.

Saya masih percaya, pemirsa / pembaca akan lebih percaya pada jurnalis yang punya reputasi kuat dan transparan.

Sekarang ini mudah dijumpai, bila ada konten2 media sosial yang menarik, para netizen biasanya berkomen: “Ah itu pasti AI.”
AI bisa menghasilkan informasi yang kurang valid, atau campur aduk. Dalam hal ini dibutuhkan jurnalis yang mampu memeriksa sumber, membandingkan data, dan memvalidasi fakta.

Dan poin ini sangat penting. Jurnalis memiliki etika jurnalistik. Ia menentukan apa yang layak dipublikasikan atau tidak. **

 

Buku sudah terbit Agustus 2026.

Bio ku.

Onny Yoelyana

Boleh disebut, saya mengenal Surabaya Post sejak sekolah dasar (SD), karena orangtua adalah pelanggan setia koran sore ini. Apalagi beberapa kali mendapat tugas kliping berita koran, sesuai tema yang ditentukan oleh guru. Begitu pun ketika SMP, SMA dan kuliah.

Jadi saya mengetahui nama-nama A Azis, dan Toety Azis dari membaca koran ini. Demikian pula nama M Anis, Zainudin, Tjuk Suwarsono, dan Sirikit Syah. Saya bahkan selalu mengikuti tulisan M Anis, setiap kali bertugas di luar Indonesia.

Batin saya, begitu asyik ya menjadi wartawan itu. Hingga perjalanan menuntun saya mendaftar dan diterima menjadi reporter Surabaya Post, Juli 1990.  Senang juga kala itu, karena tidak banyak perempuan jurnalis. Mendapat tugas menjadi reporter desk Kota, kemudian menjadi redaktur Gaya Hidup dan Kronik Pelajar untuk Surabaya Post edisi Minggu, pernah pula menjadi asisten redaktur untuk desk Opini, dan desk berita-berita Nasional. Inisial saya adalah oya.

Perjalanan saya menulis berita, mengedit, atau pun rapat redaksi, di Surabaya Post berakhir saat koran ini ditutup, tahun 2002. Saya melanjutkan cerita jurnalis, di Berita Sore, sebagai redaktur Gaya Hidup. Satu tahun saja, seumur dengan koran berkonsep lokal yang berakhir 2003. Kemudian menjadi reporter lepas di Nusa Bali 2005 hingga 2025.

Saat ini saya masih aktif di Esther Clinic menjalankan tugas sebagai Manajer Operasional dan Public Relations. Tak jauh-jauh juga dari media. ***