Senin, 26 Oktober 2026

Catatan tentang Ibu Toety Azis - 1

 

Tulisan berikut ini adalah catatan saya untuk "melengkapi" pembuatan buku tentang Perempuan Jurnalis Indonesia.


Saya menjadi reporter di Surabaya Post, tahun 1990. 

Pertama kali melihat ibu Toety Azis turun dari Mercedes Benz L 625 AZ, hati saya tertawan. 

Begitu anggun, keibuan, dan berwibawa.

Saat itu belum mengenal sebutan "keren". Jadi begitulah gambarannya setiap kali melihat ibu memasuki ruangannya di Gedung Surabaya Post, di Jl Tais Nasution, yang bangunannya unik dan megah itu.

Sejak itu, bila tidak ada liputan atau tugas lain, saya seperti ingin terus melihatnya. Melihatnya datang atau pulang. Kemudian melihatnya tertawa dan menyapa para karyawan yang kebetulan melintas di sekitarnya. Aroma harum tertinggal di sekitar ibu lewat.

Kesempatan bertatap muka, dan ngobrol dengan Ibu beberapa kali didapat saat Surabaya Post berulang tahun—artinya ada gathering karyawan, atau ketika rapat lengkap dengan awak redaksi.

Melihat Ibu menyampaikan pidato yang selalu ditunggu karyawan. Mengamati Ibu dengan penampilan khasnya, blus dan rok sewarna. Blus berlengan panjang, dengan bros di dada bagian kanan. Kalung mutiara memeluk leher, selaras dengan anting mutiaranya. Dan yang selalu kuingat cincin berlian di jari kelingking. Rok di bawah lutut potongan sederhana, pleats besar-besar, atau sekadar rok A line yang manis.

Ibu Toety, seperti sosok para ibu umumnya. Perhatian dan memastikan, anak-anak, beliau menyebut teman-teman Redaksi, begitu, tercukupi kebutuhannya. Saya yang kebetulan pernah bertugas di edisi hari Minggu, beberapa kali mendapatkan kiriman extra fooding. Entah itu, kue, roti, atau kacang hijau hangat, yang dikirimkan ke redaksi yang  bertugas.

Perhatian Ibu terhadap wartawati Surabaya Post juga ditunjukkan terhadap penampilan keseharian. Ibu mengatakan, jangan karena tugas (cari berita) yang sering di lapangan, kemudian boleh berpakaian sembarangan. Ibu tidak ingin melihat kami “kucel”.

Seluruh karyawan, termasuk wartawati mendapatkan seragam, yang bahan, dan model disesuaikan dengan tugasnya, sehingga tetap lincah bergerak dan selalu rapi.

Di jaman saya, wartawati memang belum banyak, sehingga ibu memberikan perhatian tersendiri. Ketika saya mengajukan resign karena akan menikah. Ibu tidak menyetujui permohonan saya. Pertimbangannya, tidak ingin wartawati di Surabaya Post berkurang lagi.

Nama besar Surabaya Post dan Ibu, menjadi jaminan kemudahan dalam menjalin relasi dengan narasumber maupun instansi lain.

Setiap kali memperkenalkan diri sebagai wartawati Surabaya Post, hampir semua narasumber -beragam kalangan- mengenal Ibu dan korannya. Dan selalu menanyakan lebih detil. Tugas meliput pun menjadi lebih mudah dan lancar. Bahkan mereka selalu menyelipkan cerita kekaguman pada  sosok Ibu dengan tiga putra itu.

Ibu sangat menaruh atensi pada kemampuan tim redaksi. Hal itu diwujudkan dengan rutin memberikan pelatihan dan mengirimkan wartawan wartawati terbaiknya untuk mengikuti pelatihan, seminar di bidang penulisan, atau liputan investigasi yang cukup menantang kemampuan.

Termasuk ketika saya yang merasa, masih tergolong baru bertugas di harian sore ini, tapi Ibu mengijinkan saya mengikuti CAJ (Congress ASEAN Journalism), tahun 1994. Belajar bertukar pikiran dengan banyak wartawan senior dari negara2 ASEAN. Ini kesempatan emas buat saya, kala itu.

Ibu suka mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals. Salah satunya adalah Kemesraan. Karena itu pula, setiap sore jam pulang kerja, kantor memutarkan lagu ini mengiringi karyawan pulang bekerja. Meski faktanya, teman-teman redaksi, sirkulasi, bahkan Ibu Toety Azis, sering pulang lebih larut.

Maka ketika, lagu ini tak terdengar beberapa waktu. Saya tak ingat sebabnya apa, ternyata justru Ibu yang menyadarkan kami.

Ceritanya, rapat bersama awak redaksi hari itu, Senin 5 April 1999, berakhir pk 10 malam.

Sebelum menutup rapat, ibu berpesan, "Saudara2 ibu ingin lagu Kemesraan diputar kembali ya."

Kami yang ikut rapat, saling pandang satu sama lain. Kami tak menyadari kalau “Kemesraan” tak terdengar lagi di kantor. Tak jelas mengapa lantunan, “kemesraan ini janganlah cepat berlalu…” menghilang….

Tapi yang jelas, esok paginya, Selasa 6 April 1999, kami semua terkejut. Ibu berpulang.

Rapat terakhir dengan Ibu, dengan pesan “mesra” itu membuat kami tunduk dalam keheningan dan air mata.

 

Selamat beristirahat Ibu.