Tulisan berikut ini adalah catatan saya untuk "melengkapi" pembuatan buku tentang Perempuan Jurnalis Indonesia.
Saya menjadi reporter di Surabaya Post, tahun 1990.
Pertama
kali melihat ibu Toety Azis turun dari Mercedes Benz L 625 AZ, hati saya
tertawan.
Begitu
anggun, keibuan, dan berwibawa.
Saat
itu belum mengenal sebutan "keren". Jadi begitulah gambarannya setiap
kali melihat ibu memasuki ruangannya di Gedung Surabaya Post, di Jl Tais
Nasution, yang bangunannya unik dan megah itu.
Sejak
itu, bila tidak ada liputan atau tugas lain, saya seperti ingin terus
melihatnya. Melihatnya datang atau pulang. Kemudian melihatnya tertawa dan
menyapa para karyawan yang kebetulan melintas di sekitarnya. Aroma harum
tertinggal di sekitar ibu lewat.
Kesempatan
bertatap muka, dan ngobrol dengan Ibu
beberapa kali didapat saat Surabaya Post berulang tahun—artinya ada gathering karyawan, atau ketika rapat lengkap
dengan awak redaksi.
Melihat
Ibu menyampaikan pidato yang selalu ditunggu karyawan. Mengamati Ibu dengan
penampilan khasnya, blus dan rok sewarna. Blus berlengan panjang, dengan bros
di dada bagian kanan. Kalung mutiara memeluk leher, selaras dengan anting
mutiaranya. Dan yang selalu kuingat cincin berlian di jari kelingking. Rok di
bawah lutut potongan sederhana, pleats besar-besar, atau sekadar rok A line
yang manis.
Ibu
Toety, seperti sosok para ibu umumnya. Perhatian dan memastikan, anak-anak,
beliau menyebut teman-teman Redaksi, begitu, tercukupi kebutuhannya. Saya yang
kebetulan pernah bertugas di edisi hari Minggu, beberapa kali mendapatkan
kiriman extra fooding. Entah itu,
kue, roti, atau kacang hijau hangat, yang dikirimkan ke redaksi yang bertugas.
Perhatian
Ibu terhadap wartawati Surabaya Post juga ditunjukkan terhadap penampilan
keseharian. Ibu mengatakan, jangan karena tugas (cari berita) yang sering di
lapangan, kemudian boleh berpakaian sembarangan. Ibu tidak ingin melihat kami
“kucel”.
Seluruh
karyawan, termasuk wartawati mendapatkan seragam, yang bahan, dan model disesuaikan
dengan tugasnya, sehingga tetap lincah bergerak dan selalu rapi.
Di
jaman saya, wartawati memang belum banyak, sehingga ibu memberikan perhatian tersendiri.
Ketika saya mengajukan resign karena
akan menikah. Ibu tidak menyetujui permohonan saya. Pertimbangannya, tidak
ingin wartawati di Surabaya Post berkurang lagi.
Nama
besar Surabaya Post dan Ibu, menjadi jaminan kemudahan dalam menjalin relasi
dengan narasumber maupun instansi lain.
Setiap
kali memperkenalkan diri sebagai wartawati Surabaya Post, hampir semua narasumber
-beragam kalangan- mengenal Ibu dan korannya. Dan selalu menanyakan lebih detil.
Tugas meliput pun menjadi lebih mudah dan lancar. Bahkan mereka selalu
menyelipkan cerita kekaguman pada sosok
Ibu dengan tiga putra itu.
Ibu
sangat menaruh atensi pada kemampuan tim redaksi. Hal itu diwujudkan dengan
rutin memberikan pelatihan dan mengirimkan wartawan wartawati terbaiknya untuk
mengikuti pelatihan, seminar di bidang penulisan, atau liputan investigasi yang
cukup menantang kemampuan.
Termasuk
ketika saya yang merasa, masih tergolong baru bertugas di harian sore ini, tapi
Ibu mengijinkan saya mengikuti CAJ (Congress ASEAN Journalism), tahun 1994.
Belajar bertukar pikiran dengan banyak wartawan senior dari negara2 ASEAN. Ini
kesempatan emas buat saya, kala itu.
Ibu
suka mendengarkan lagu-lagu Iwan Fals. Salah satunya adalah Kemesraan. Karena
itu pula, setiap sore jam pulang kerja, kantor memutarkan lagu ini mengiringi
karyawan pulang bekerja. Meski faktanya, teman-teman redaksi, sirkulasi, bahkan
Ibu Toety Azis, sering pulang lebih larut.
Maka
ketika, lagu ini tak terdengar beberapa waktu. Saya tak ingat sebabnya apa, ternyata
justru Ibu yang menyadarkan kami.
Ceritanya,
rapat bersama awak redaksi hari itu, Senin 5 April 1999, berakhir pk 10 malam.
Sebelum
menutup rapat, ibu berpesan, "Saudara2 ibu ingin lagu Kemesraan diputar
kembali ya."
Kami
yang ikut rapat, saling pandang satu sama lain. Kami tak menyadari kalau “Kemesraan”
tak terdengar lagi di kantor. Tak jelas mengapa lantunan, “kemesraan ini
janganlah cepat berlalu…” menghilang….
Tapi
yang jelas, esok paginya, Selasa 6 April 1999, kami semua terkejut. Ibu
berpulang.
Rapat
terakhir dengan Ibu, dengan pesan “mesra” itu membuat kami tunduk dalam
keheningan dan air mata.
Selamat
beristirahat Ibu.

